TAK ADIL, Guru Honorer Induk Tak Lulus PPPK Tahap I, Digeser Noninduk, Honorer K2 Siap DEMO
CopyAMP code

TAK ADIL, Guru Honorer Induk Tak Lulus PPPK Tahap I, Digeser Noninduk, Honorer K2 Siap DEMO

Minggu, 10 Oktober 2021


Gurubisa.com - Pengumuman kelulusan PPPK guru tahap I di sejumlah daerah bermasalah. Setelah beberapa wilayah di Jawa Barat, kini giliran guru honorer di Jawa Timur yang protes keras. 


Menurut Ketua Perkumpulan Honorer K2 Indonesia (PHK2I) Jawa Timur Eko Mardiono, banyak guru induk yang tak lulus tes PPPK tahap I. Ironisnya yang terbanyak guru honorer K2. 


"Ini sangat aneh. Guru honorer K2 yang nyata-nyata mengajar di sekolah induk malah tidak diluluskan. Mereka digeser guru noninduk," kata Eko kepada JPNN.com, Minggu (10/10). 


Dia heran dengan sistem penetapan kelulusan PPPK guru tahap I. Katanya sekolah induk mendapatkan prioritas, tetapi faktanya malah kalah. 


"Edan tenan iki, bahkan yang nilainya tinggi pun enggak lulus," serunya. 


Eko mempertanyakan apakah afirmasi bagi guru honorer K2 itu dipakai atau tidak. Sebab, faktanya banyak yang tumbang. 


Ada juga honorer K2.yang melamar di sekolah noninduk meski nilainya tinggi tidak diluluskan padahal guru induk tidak memenuhi passing grade. 


Menurut Eko, kondisi ini menimbulkan kericuhan karena guru honorer K2 di sekolah induk malah bisa digeser dengan guru noninduk karena alasan nilainya lebih tinggi.


"Ini bukti pemerintah pilih kasih dan abai kepada guru honorer K2," ucapnya. 


Eko curiga Kemendikbudristek lebih mengutamakan guru-guru honorer non-K2. Sementara guru honorer K2 yang nyata-nyata lebih lama pengabdiannya disingkirkan dengan alasan yang dibuat-buat. 


Eko menegaskan guru honorer K2 Jatim memilih tidak melakukan sanggahan karena pasti dijawab Kemendikbudristek dengan alasan macam-macam. 


"Kami pilih aksi turun ke jalan. Honorer K2 Jatim akan bergerak ke Jakarta, kami tidak terima dengan perlakuan tidak adil pemerintah," tegasnya. 


Dia menyebutkan aksi demo ini bukan gertak sambal. Sejatinya, honorer K2 Jatim sudah ingin demo, tetapi bersabar menunggu kebijakan pemerintah. 


Namun, setelah ada pengumuman kelulusan, ternyata hasilnya malah tidak sesuai yang diharapkan. 


'Kemarahan arek Jatim sudah di ubun-ubun. Honorer K2 dikibuli terus, makanya kami pilih mati berdemo daripada mati karena Corona. Tidak ada Corona-coronaan," pungkas Eko Mardiono. (esy/jpnn)


Sumber : https://www.jpnn.com


Demikian berita terkini yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat.