HANCUR, Sudah Mendapat Ucapan Selamat LULUS PPPK, Nilai Murni Tertinggi, Guru Honorer Menangis Kecewa dan Malu
CopyAMP code

HANCUR, Sudah Mendapat Ucapan Selamat LULUS PPPK, Nilai Murni Tertinggi, Guru Honorer Menangis Kecewa dan Malu

Kamis, 11 November 2021


Gurubisa.com - Kebijakan pemerintah yang memprioritaskan guru induk dalam seleksi PPPK tahap I menimbulkan rasa tidak puas.  


Banyak honorer yang nilai murninya melampaui passing grade, harus tersingkir akibat statusnya bukan guru induk.  


Perwakilan Forum Guru Honorer Negeri Lulus Passing Grade Seluruh Indonesia (FGHNLPSI) Heti Kustrianingsih mengungkapkan setiap hari selalu mendapatkan pesan elektronik dari rekan-rekannya yang bernasib sama.  


Ketika membaca dan membalas pesan dari rekan-rekannya via WhatsApp, Heti mengaku hanya bisa menangis.  


"Untuk bergerak ke Jakarta, kami ada keterbatasan juga. Apalagi kami harus tetap mengajar anak-anak. Di sisi lain, kami harus memperjuangkan nasib kami," keluh Heti kepada JPNN.com, Kamis (11/11). 


Guru honorer negeri di Cibinong ini menilai kebijakan pemerintah yang berubah-ubah telah menimbulkan masalah baru.  


Mereka sudah ikut seleksi kemudian lulus passing grade, tetapi gagal menjadi PPPK karena adanya kebijakan pemerintah yang mengubah skema afirmasi.  


Turunnya KepmenPAN-RB 1168 Tahun 2021 memang menyelamatkan banyak guru honorer usia 35 tahun ke atas. 


Namun, di sisi lain guru honorer dengan nilai murni tertinggi harus kalah telak. 


"Andai pemerintah tahu bagaimana perasaan kami saat ini. Kami korban dari penurunan passing grade yang nilainya sudah di atas ambang batas murni harus tetap ikut tes tahap II," ujarnya. 


Heti dan kawan-kawannya merasa kecewa dengan perlakuan pemerintah.  


Mereka sedih karena lulus saat prasanggah, sudah ada WhatsApp Ditjen GTK Kemendikbudristek yang mengucapkan selamat.  


Menurut Heti, tidak sedikit guru honorer sudah yakin lulus saat hasil sanggah karena modalnya nilai murni passing grade tertinggi di wilayahnya.  


Namun, semua itu berubah drastis karena posisinya tersingkir oleh saingannya yang memiliki sertifikat pendidik.  


Padahal, guru berserdik itu nilai murninya sangat rendah. 


"Ini memberikan luka dalam bagi guru honorer yang lulus passing grade PPPK murni. Keluarga kami juga terluka. Kami malu karena kelulusan awal banyak yang tahu," ucapnya.


Untuk mengobati luka tersebut, lanjut Heti, Kemendikbudristek seharusnya memberikan kebijakan berupa pemberian formasi bagi mereka.  


Kebijakan pemerintah sudah merusak sistem rekrutmen karena nilai tertinggi harus dikorbankan. 


"Kepada siapa yang harus kami minta pertanggungjawabannya. Apakah sistemnya memang belum sempurna sehingga mengorbankan guru-guru honorer yang nilai murninya tinggi,” ucap Heti. (esy/jpnn)


Sumber : https://www.jpnn.com/


Demikian berita terkini yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat.