Masya Allah, Usia 9 Tahun Hafiz Quran, Siswa Ini Berbagi Tips Cara Menghafal Cepat Hingga 30 Juz
CopyAMP code

Masya Allah, Usia 9 Tahun Hafiz Quran, Siswa Ini Berbagi Tips Cara Menghafal Cepat Hingga 30 Juz

Jumat, 25 Juni 2021


Gurubisa.com - Muhammad Ahsan Bukhori (9), siswa kelas tiga Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tahfidzul Qur’an Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Jawa Tengah, berhasil menghafal 30 juz Alquran. Proses menghafal dilakukannya selama tiga tahun, sejak masuk MI. Ahsan tidak sendiri, tahun ini, 29 rekan seangkatannya juga berhasil menyelesaikan hafalan 30 Juz.


Dilansir dari laman resmi Kemenag, siswa asal Bandung ini bercerita tentang kiatnya memasukan seluruh ayat Alquran ke dalam memorinya. Sejak awal ia memang memiliki minat menjadi seorang hafiz Alquran . Untuk itu, ia mendaftar ke MI Tahfiz Al-Qur'an TBS, lembaga pendidikan Islam berbagai jenjang yang memiliki program khusus tahfiz untuk usia dini.


Di madrasah yang terletak di Kelurahan Krandon, Kecamatan Kota, Kab Kudus itu, Ahsan digembleng hafalan dengan beban setoran satu halaman per hari. Proses itu dilakoninya dengan tekun hingga berhasil khatam dalam tempo tiga tahun. Padahal di lembaga itu Ahsan tidak hanya mendapat beban hafalan saja, tetapi juga mendapat pendidikan fomal sebagaimana sekolah biasa.


Anak lelaki berkulit coklat ini bercerita tetang kiatnya membagi waktu dan menjaga agar "setoran" dapat dilakukan dengan lancar. “Ustadz selalu ngendikan (menyampaikan), baca dulu berulang kali ayatnya, jika sudah yakin maka coba untuk menghafal tanpa melihat Alquran,” jelasnya, Kamis (24/6/2021).


Menurutnya, terdapat hal-hal non teknis yang membuat proses belajarnya mendapat kemudahan. “Ahsan selalu minta doa bapak ibu, niat sungguh-sungguh, serta tak boleh ngantuk apalagi ngobrol ketika hafalan. Sama ustaz harus hormat dan patuh agar bisa cepat hafal,” ungkapnya lugu.


Kepala MI NU Tahfidzul Qur’an TBS KH. Saeun menyampaikan, madrasah yang dipimpinnya, selain mengedepankan prestasi akademik juga memberikan hafalan Alquran bagi siswa yang masuk jalur tahfiz.



Pelajaran sekolah dan hafalan Alquran, diakuinya merupakan beban yang berat bagi siswa. Namun dengan kehidupan di pesantren yang terkontrol 24 jam, internalisasi ilmu dan karakter menjadi maksimal. Madrasah yang dipimpinnya tidak ingin memproduksi orang pintar saja, tetapi harus disertai etika dan akhlak yang baik sesuai tuntunan Alquran.



Tidak mudah menciptakan generasi Qur'ani yang juga memiliki kapabilitas akademik. Beban yang berat itu menuntut partisipasi penuh antara pihak madrasah, siswa, dan juga dukungan spiritual dari orang tua. “Doa dan tirakat orang tua sangat membantu lancarnya hafalan anak-anak,” tukas Saeun.



Terkadang ada juga anak yang mogok hafalan. Bila ini terjadi, madrasah akan mengkomunikasikannya dengan tiga pihak, yaitu: pengasuh pesantren, ustaz, dan orang tua. Bila semuanya bertindak positif, biasanya ada solusi dan pembelajaran berjalan kembali.



Kegiatan pembelajaran memiliki durasi cukup panjang, yaitu pukul lima pagi hingga jam delapan malam. Mulai subuh hingga pukul 7 pagi anak-anak harus setoran hafalan hingga waktunya belajar di madrasah.


Sumber : https://edukasi.sindonews.com/


Demikian berita terkini yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat.