Indra Charismiadji Sebut Guru-guru di Indonesia Tak FAHAM Terapkan Belajar Daring
CopyAMP code

Indra Charismiadji Sebut Guru-guru di Indonesia Tak FAHAM Terapkan Belajar Daring

Sabtu, 29 Mei 2021


Gurubisa.com - Pengamat dan Praktisi Pendidikan Abad 21 Indra Charismiadji menilai ada salah tafsir dari para guru saat melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di rumah secara daring. 


Banyak di antaranya yang berpikir belajar daring adalah online nonstop atau full live streaming. Semisal, siswa belajar dari pukul 07.10-14.50, maka online selama jam itu. 


"Itu salah. Belajar daring itu bukan online dari pagi sampai sore. Bukan belajar daring itu, tetapi habis-habisin kuota," kata Indra dalam video conference, Rabu (1/4) 


Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) ini mengungkapkan, selama dua minggu ini menyaksikan kegagapan dunia pendidikan Indonesia dalam menjalankan pembelajaran metoda daring. 


Jika dibiarkan terus menerus generasi masa depan bangsa yang akan menjadi korbannya. Karena tidak ada yang bisa memprediksi kapan situasi normal kembali. 


"Terbukti jelas para pendidik Indonesia belum siap untuk membimbing peserta didik menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 yang serba digital ini. Untuk itu saya mengambil inisiatif dengan membawa program blended learning (integrasi antara daring dan luring) terbaik dunia untuk diimplementasikan di Indonesia," tuturnya. 


Program yang merupakan kolaborasi dengan Arizona State University Prep Digital, Amerika Serikat ini lanjut Indra, gurunya bukan hanya beda tempat mengajar. Ini bahkan beda benua dan beda zona waktu tetapi mutu pendidikan tetap dijaga bahkan meningkat. 


Indra menambahkan, konsep pembelajaran abad 21 bukan lagi guru ceramah menggunakan aplikasi konferensi video. Bukan menggunakan materi-materi animasi atau video seperti yang saat ini gencar dipromosikan sebagai bimbel online.


Bukan pula memberikan pekerjaan rumah atau tugas yang luar biasa banyaknya. Melainkan model pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa memecahkan masalah, berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreatif, dan inovatif dengan menggunakan teknologi digital sebagai alat kerja. 


"Jadi bukan sekadar menerima informasi. Ujung tombaknya tetap guru yang harus berada di depan sebagai tauladan, di tengah sebagai fasilitator, dan di belakang sebagai motivator," ujarnya. 


Kemitraan internasional ini akan memberikan kesempatan pagi para pendidik Indonesia untuk belajar langsung dari pakarnya. 


Indra melanjutkan, program yang ditawarkan dari kemitraan internasional ini sangatlah lengkap mulai dari level TK, SD, SMP, SMA, sampai dengan perguruan tinggi, program pelatihan guru secara intensif, dan program ijazah sekolah menengah atas ganda (dual high school diploma) dari Amerika Serikat. 


Bagi sekolah yang memiliki keinginan untuk mengimplementasikan program ini, tidak perlu mengganti program/kurikulum ataupun tenaga pengajar yang ada. Sebab, semua sudah didesain untuk melengkapi program yang sudah berjalan. (esy/jpnn)


Sumber : jpnn.com


Demikian berita pendidikan yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat.