Survei FSGI: 8 Persen Guru Tak Mau Vaksinasi, Belajar Tatap Muka Terancam BATAL
CopyAMP code

Survei FSGI: 8 Persen Guru Tak Mau Vaksinasi, Belajar Tatap Muka Terancam BATAL

Rabu, 17 Maret 2021


Gurubisa.com - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) melakukan survei singkat pada 2.406 guru di 23 provinsi seluruh Indonesia. Adapun, hasil survei tersebut ditemukan bahwa masih banyak guru yang menolak vaksinasi Covid-19.


“Masih ada guru yang menyatakan tidak bersedia untuk divaksinasi sebanyak 8,27 persen,” kata Sekjen FSGI Heru Purnomo, Kamis (18/3).


Padahal, kata Heru, pemerintah juga terus memberikan sosialiasi jika vaksin Covid-19 halal dan aman. Vaksinasi guru juga diharapkan dapat mempercepat penyelenggaraan pembelajaran tatap muka (PTM) pada Juli 2021.


Namun, dibandingkan dengan yang menolak vaksin, banyak guru yang menyampaikan antusiasnya terhadap proses vaksinasi tersebut. Terdapat 91,7 persen guru menyatakan siap mengikuti vaksin.


Akan tetapi, angka 8,27 persen itu tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebab jika masih ada guru yang belum divaksin dan siswa yang juga belum divaksin, herd immunity di lingkungan sekolah akan sulit untuk terbentuk.


Pihaknya pun menelusuri asal wilayah guru yang menolak vaksinasi. Guru yang berasal dari luar Jawa lebih banyak yang menolak untuk divaksin yaitu sebanyak 24,35 persen.


“Dibandingkan guru-guru yang berasal dari Jawa yang hanya 4,84 persen. Kondisi ini diduga paralel dengan situasi penyebaran Covid 19 yang lebih buruk di Pulau Jawa dibandingkan daerah lainnya,” imbuhnya.


Jika berdasarkan usia, guru yang lebih muda lebih banyak menolak vaksinasi. Pada guru yang berusia 20 hingga 29 tahun ada sebanyak 10,61 persen yang tidak bersedia mengikuti vaksinasi, pada usia 30-39 sebanyak 10,97 persen dan pada usia 40-49 sebanyak 10,51 persen.


“Sedangkan pada usia 50-60 tahun hanya 4,67 persen yang menyatakan tidak bersedia,” pungkas Heru.


Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menargetkan sekitar 5 juta guru akan mendapatkan vaksinasi Covid-19. Adapun, vaksinasi mulai dilakukan sejak Februari hingga target penyelesaian Juni 2021.


Untuk alasan para guru tidak bersedia mengikuti vaksinasi Covid-19 di karenakan khawatir dengan efek samping dari vaksin sebanyak 63,32 persen. Lalu, sebanyak 41,71 persen ragu dengan kualitas produk vaksin.


“Berikutnya beralasan memiliki penyakit bawaan (komorbid) sebanyak 25,13 persen dan karena pemberitaan negatif tentang vaksinasi di media sosial sebanyak 22,11 persen,” jelas Heru.


Ada juga yang menyatakan karena masih ada kemungkinan tertular Virus Covid 19 sebanyak 12,06 persen dan penyebaran virus Covid-19 yang tidak mengkhawatirkan pada wilayah guru yang bersangkutan sebanyak 10,55 persen.


“Sisanya menyatakan bahwa lebih baik ikut vaksinasi secara mandiri sebanyak 3,02 psrsen dan sebanyak 0,3 persen karena tidak takut terinfeksi virus Covid-19,” pungkasnya.


Demikian berita guru yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat.